RAJA
RAJA JOGJAKARTA
( HAMENGKU BUWONO I - XI )
Kesultanan
Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan sedikit dari peninggalan sejarah
kerajaan-kerajaan di Nusantara yang masih hidup hingga kini, dan masih
mempunyai pengaruh luas di kalangan rakyatnya. Kasultanan Ngayogyakarta
Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri
Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Pemerintah Hindia Belanda mengakui
Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah
tangga sendiri. Semua itu dinyatakan di dalam kontrak politik. Kontrak politik
terakhir Kasultanan tercantum dalam Staatsblad 1941, No. 47. Berikut ini
merupakan Sultan-sultan yang memerintah di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
sejak awal didirikan hingga sekarang adalah :
1.
Sultan Hamengku Buwono I
Sultan Hamengku Buwono I (6 Agustus 1717 – 24 Maret
1792) terlahir dengan nama Raden Mas Sujana yang merupakan adik Susuhunan
Mataram II Surakarta. Sultan Hamengkubuwana I dalam sejarah terkenal sebagai
Pangeran Mangkubumi pada waktu sebelum naik tahta kerajaan Ngayogyakarta,
beliau adalah putra Sunan Prabu dan saudara muda Susuhunan Pakubuwana II.
Karena berselisih dengan Pakubuwana II, masalah suksesi, ia mulai menentang
Pakubuwana II (1747) yang mendapat dukungan Vereenigde Oost Indische Compagnie
atau lebih terkenal sebagai Kompeni Belanda (perang Perebutan Mahkota III di
Mataram). Dalam pertempurannya melawan kakaknya, Pangeran Mangkubumi dengan
bantuan panglimanya Raden Mas Said, terbukti sebagai ahli siasat perang yang
ulung, seperti ternyata dalam pertempuran-pertempuran di Grobogan, Demak dan
pada puncak kemenangannya dalam pertempuran di tepi Sungai Bagawanta. Disana
Panglima Belanda De Clerck bersama pasukannya dihancurkan (1751). peristiwa
lain yang penting menyebabkan Pangeran Mangkubumi tidak suka berkompromi dengan
Kompeni Belanda. Pada tahun 1749 Susuhunan Pakubuwana II sebelum mangkat
menyerahkan kerajaan Mataram kepada Kompeni Belanda; Putra Mahkota dinobatkan
oleh Kompeni Belanda menjadi Susuhunan Pakubuwana III. Kemudian hari Raden Mas
Said bercekcok dengan Pangeran Mangkubumi dan akhirnya diberi kekuasaan tanah
dan mendapat gelar pangeran Mangkunegara. Pangeran Mangkubumi tidak mengakui
penyerahan Mataram kepada Kompeni Belanda. Setelah pihak Belanda beberapa kali
gagal mengajak Pangeran Mangkubumi berunding menghentikan perang dikirimkan
seorang Arab dari Batavia yang mengaku ulama yang datang dari Tanah Suci.
Berkat pembujuk ini akhirnya diadakan perjanjian di Giyanti (sebelah timur kota
Surakarta) antara Pangeran Mangkubumi dan Kompeni Belanda serta Susuhunan
Pakubuwana III (1755). Menurut Perjanjian Giyanti itu kerajaan Mataram dipecah
menjadi dua, ialah kerajaan Surakarta yang tetap dipimpin oleh Susuhunan
Pakubuwana III dan kerajaan Ngayogyakarta dibawah Pangeran Mangkubumi diakui
sebagai Sultan Hamengkubuwana I yang bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin
Panatagama Khalifatullah dengan karatonnya di Yogyakarta. Atas kehendak Sultan
Hamengkubuwana I kota Ngayogyakarta (Jogja menurut ucapan sekarang) dijadikan
ibukota kerajaan. Kecuali mendirikan istana baru, Hamengkubuwana I yang
berdarah seni mendirikan bangunan tempat bercengrama Taman Sari yang terletak
di sebelah barat istananya. Kisah pembagian kerajaan Mataram II ini dan
peperangan antara pangeran-pangerannya merebut kekuasaan digubah oleh
Yasadipura menjadi karya sastra yang disebut Babad Giyanti. Sultan
Hamengkubuwana I dikenal oleh rakyatnya sebagai panglima, negarawan dan
pemimpin rakyat yang cakap. Beliau meninggal pada tahun 1792 Masehi dalam usia
tinggi dan dimakamkan Astana Kasuwargan di Imogiri. Putra Mahkota menggantikannya
dengan gelar Sultan Hamengkubuwono II. Hamengkubuwana I dianugerahi gelar
pahlawan nasional Indonesia pada peringatan Hari Pahlawan pada 10 November
2006.

2.
Sultan Hamengku Buwono II
Hamengkubuwono II (7 Maret 1750 – 2 Januari 1828)
atau terkenal pula dengan nama lainnya Sultan Sepuh. Dikenal sebagai penentang
kekuasaan Belanda, antara lain menentang gubernur jendral Daendels dan Raffles,
sultan menentang aturan protokoler baru ciptaan Daendels mengenai alat
kebesaran Residen Belanda, pada saat menghadap sultan misalnya hanya
menggunakan payung dan tak perlu membuka topi, perselisihan antara
Hamengkubuwana II dengan susuhunan surakarta tentang batas daerah kekuasaan
juga mengakibatkan Daendels memaksa Hamengkubuwono II turun takhta pada tahun
1810 dan untuk selanjutnya bertahta secara terputus-putus hingga tahun 1828
yaitu akhir 1811 ketika Inggris menginjakkan kaki di jawa (Indonesia) sampai
pertengahan 1812 ketika tentara Inggris menyerbu keraton Yogyakarta dan 1826
untuk meredam perlawanan Diponegoro sampai 1828. Hamengkubuwono III,
Hamengkubuwono IV dan Hamengkubuwono V sempat bertahta saat masa hidupnyaSri
Sultan Hamengku Buwono II. Saat menjadi putra mahkota beliau mengusulkan untuk
dibangun benteng kraton untuk menahan seragan tentara inggris. Tahun 1812
Raffles menyerbu Yogyakarta dan menangkap Sultan Sepuh yang kemudian diasingkan
di Pulau Pinang kemudian dipindah ke Ambon.
3.
Sultan Hamengku Buwono III
Hamengkubuwana III (1769 – 3 November 1814) adalah
putra dari Hamengkubuwana II (Sultan Sepuh). Hamengkubuwana III memegang
kekuasaan pada tahun 1810. Setahun kemudian ketika Pemerintah Belanda
digantikan Pemerintah Inggris di bawah pimpinan Letnan Gubernur Raffles, Sultan
Hamengkubuwana III turun tahta dan kerajaan dipimpin oleh Sultan Sepuh
(Hamengkubuwana II) kembali selama satu tahun (1812). Pada masa kepemimpinan
Sultan Hamengkubuwana III keraton Yogyakarta mengalami kemunduran yang
besar-besaran. Kemunduran-kemunduran tersebut antara lain : Kerajaan
Ngayogyakarta diharuskan melepaskan daerah Kedu, separuh Pacitan, Japan, Jipang
dan Grobogan kepada Inggris dan diganti kerugian sebesar 100.000 real
setahunnya. Angkatan perang kerajaan diperkecil dan hanya beberapa tentara
keamanan keraton. Sebagian daerah kekuasaan keraton diserahkan kepada Pangeran
Notokusumo yang berjasa kepada Raffles dan diangkat menjadi Pangeran Adipati
Ario Paku Alam I. Pada tahun 1814 Hamengkubuwana III mangkat dalam usia 43
tahun.
4.
Sultan Hamengku Buwono IV
Hamengkubuwono IV (3 April 1804 – 6 Desember 1822)
sewaktu kecil bernama BRM Ibnu Jarot, diangkat sebagai raja pada usia 10 tahun,
karenanya dalam memerintah didampingi wali yaitu Paku Alam I hingga tahun 1820.
Pada masa pemerintahannya diberlakukan sistem sewa tanah untuk swasta tetapi
justru merugikan rakyat. Pada tahun 1822 beliau wafat pada saat bertamasya
sehingga diberi gelar Sultan Seda Ing Pesiyar (Sultan yang meninggal pada saat
berpesiar).
5.
Sultan Hamengku Buwono V
Hamengkubuwono V (25 Januari 1820 – 1826 dan 1828 – 4
Juni 1855) bernama kecil Raden Mas Menol dan dinobatkan sebagai raja di
kesultanan Yogyakarta dalam usia 3 tahun. Dalam memerintah beliau dibantu dewan
perwalian yang antara lain beranggotakan Pangeran Diponegoro sampai tahun 1836.
Dalam masa pemerintahannya sempat terjadi peristiwa penting yaitu Perang Jawa
atau Perang Diponegoro yang berlangsung 1825 – 1830. Setelah perang selesai
angkatan bersenjata Kesultanan Yogyakarta semakin diperkecil lagi sehingga
jumlahnya menjadi sama dengan sekarang ini. Selain itu angkatan bersenjata juga
mengalami demiliterisasi dimana jumlah serta macam senjata dan personil serta
perlengkapan lain diatur oleh Gubernur Jenderal Belanda untuk mencegah
terulangnya perlawanan kepada Belanda seperti waktu yang lalu. Beliau mangkat
pada tahun 1855 tanpa meninggalkan putra yang dapat menggantikannya dan tahta
diserahkan pada adiknya.
6.
Sultan Hamengku Buwono VI
Sultan Hamengku Buwono VI (19 Agustus 1821 – 20 Juli
1877) adalah adik dari Hamengkubuwono V. Hamengkubuwono VI semula bernama
Pangeran Adipati Mangkubumi. Kedekatannya dengan Belanda membuatnya mendapat
pangkat Letnan Kolonel pada tahun 1839 dan Kolonel pada tahun 1847 dari
Belanda.
7.
Sultan Hamengku Buwono VII
Nama aslinya adalah Raden Mas Murtejo, putra
Hamengkubuwono VI yang lahir pada tanggal 4 Februari 1839. Ia naik takhta
menggantikan ayahnya sejak tahun 1877. Pada masa pemerintahan Hamengkubuwono
VII, banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, yang seluruhnya berjumlah 17
buah. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang kepadanya untuk menerima dana
sebesar Rp 200.000,00. Hal ini mengakibatkan Sultan sangat kaya sehingga sering
dijuluki Sultan Sugih. Masa pemerintahannya juga merupakan masa transisi menuju
modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan. Ia bahkan mengirim
putra-putranya belajar hingga ke negeri Belanda. Pada tanggal 29 Januari 1920
Hamengkubuwono VII yang saat itu berusia lebih dari 80 tahun memutuskan untuk
turun tahta dan mengangkat putra mahkota sebagai penggantinya. Konon peristiwa
ini masih dipertanyakan keabsahannya karena putera mahkota (GRM. Akhadiyat)
yang seharusnya menggantikan tiba-tiba meninggal dunia dan sampai saat ini
belum jelas penyebab kematiannya. Dugaan yang muncul ialah adanya keterlibatan
pihak Belanda yang tidak setuju dengan putera Mahkota pengganti Hamengkubuwono
VII yang terkenal selalu menentang aturan-aturan yang dibuat pemerintah
Batavia. Biasanya dalam pergantian tahta raja kepada putera mahkota ialah
menunggu sampai sang raja yang berkuasa meninggal dunia. Namun kali ini berbeda
karena pengangkatan Hamengkubuwono VIII dilakukan pada saat Hamengkubuwono VII
masih hidup, bahkan menurut cerita masa lalu sang ayah diasingkan oleh anaknya
pengganti putera mahkota yang wafat ke Keraton di luar keraton Yogyakarta.
Hamengkubuwono VII dengan besar hati mengikuti kemauan sang anak (yang di dalam
istilah Jawa disebut mikul dhuwur mendhem jero) yang secara politis telah
menguasai kondisi di dalam pemerintahan kerajaan. Setelah turun tahta,
Hamengkubuwono VII pernah mengatakan “Tidak pernah ada Raja yang mati di
keraton setelah saya” yang artinya masih dipertanyakan. Sampai saat ini ada dua
raja setelah dirinya yang meninggal di luar keraton, yaitu Hamengkubuwono VIII
meninggal dunia di tengah perjalanan di luar kota dan Hamengkubuwono IX
meninggal di Amerika Serikat. Bagi masyarakat Jawa adalah suatu kebanggaan jika
seseorang meninggal di rumahnya sendiri. Hamengkubuwono VII meninggal di
keraton pada tanggal 30 Desember 1931 dan dimakamkan di Imogiri. Versi lain
mengatakan bahwa Hamengkubuwono VII meminta pensiun kepada Belanda untuk madeg
pandito (menjadi pertapa) di Pesanggrahan Ngambarukmo (sekarang Ambarukmo).
Sampai saat ini bekas pesanggrahan itu masih ada dan di sebelah timurnya dulu
pernah berdiri Hotel Ambarukmo yang sekarang sudah tidak ada lagi.
8.
Sultan Hamengku Buwono VIII
Sri Sultan Hamengkubuwono VIII (Kraton Yogyakarta
Adiningrat, 3 Maret 1880 – Kraton Yogyakarta Adiningrat, 22 Oktober 1939)
adalah salah seorang raja yang pernah memimpin di Kesultanan Yogyakarta.
Dinobatkan menjadi Sultan Yogyakarta pada tanngal 8 Februari 1921. Pada masa
Hamengkubuwono VIII, Kesultanan Yogyakarta mempunyai banyak dana yang dipakai
untuk berbagai kegiatan termasuk membiayai sekolah-sekolah kesultanan.
Putra-putra Hamengkubuwono VIII banyak disekolahkan hingga perguruan tinggi,
banyak diantaranya di Belanda. Salah satunya adalah GRM Dorojatun, yang kelak
bertahta dengan gelar Hamengkubuwono IX, yang bersekolah di Universitas Leiden.
Pada masa pemerintahannya, beliau banyak mengadakan rehabilitasi bangunan kompleks
keraton Yogyakarta. Salah satunya adalah bangsal Pagelaran yang terletak di
paling depan sendiri (berada tepat di selatan Alun-alun utara Yogyakarta).
Bangunan lainnya yang rehabilitasi adalah tratag Siti Hinggil, Gerbang
Donopratopo, dan Masjid Gedhe. Beliau meninggal pada tanggal 22 Oktober 1939 di
RS Panti Rapih Yogyakarta karena menderita sakit.
9.
Sultan Hamengku Buwono IX
Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Yogyakarta, 12 April
1912-Washington, DC, AS, 1 Oktober 1988) adalah salah seorang raja yang pernah
memimpin di Kasultanan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
Beliau juga Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973-1978. Beliau
juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Lahir di Yogyakarta dengan nama GRM
Dorojatun, Hamengkubuwono IX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII
dan Raden Ajeng Kustilah. Diumur 4 tahun Hamengkubuwono IX tinggal pisah dari
keluarganya. Dia memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang,
dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau berkuliah di Universiteit Leiden,
Belanda (”Sultan Henkie”). Hamengkubuwono IX dinobatkan sebagai Sultan
Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun
Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senopati Ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin
Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Songo”. Beliau merupakan
sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia.
Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi
Yogyakarta dengan predikat “Istimewa”. Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali
menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya
pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973
beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun
1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan
kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur
adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada
Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN. Minggu malam pada 1 Oktober 1988 ia wafat
di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan
di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri.
10.
Sultan Hamengku Buwono X
Sri Sultan Hamengkubuwono X (Kraton Yogyakarta
Hadiningrat, 2 April 1946 – sekarang) adalah salah seorang raja yang pernah
memimpin di Kasultanan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak
1998. Hamengkubuwono X lahir dengan nama BRM Herjuno Darpito. Setelah dewasa
bergelar KGPH Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi
gelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram.
Hamengkubuwono X adalah seorang lulusan Fakultas Hukum UGM dan dinobatkan
sebagai raja pada tanggal 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921) dengan gelar
resmi Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono
Senapati ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang
Jumeneng Kaping Dasa. Hamengkubuwono X aktif dalam berbagai organisasi dan
pernah memegang berbagai jabatan diantaranya adalah ketua umum Kadinda DIY,
ketua DPD Golkar DIY, ketua KONI DIY, Dirut PT Punokawan yang bergerak dalam
bidang jasa konstruksi, Presiden Komisaris PG Madukismo, dan pada bulan Juli
1996 diangkat sebagai Ketua Tim Ahli Gubernur DIY.Setelah Paku Alam VIII wafat,
dan melalui beberapa perdebatan, pada 1998 beliau ditetapkan sebagai Gubernur
Daerah Istimewa Yogyakarta dengan masa jabatan 1998-2003. Dalam masa jabatan
ini Hamengkubuwono X tidak didampingi Wakil Gubernur. Pada tahun 2003 beliau
ditetapkan lagi, setelah terjadi beberapa pro-kontra, sebagai Gubernur Daerah
Istimewa Yogyakarta untuk masa jabatan 2003-2008. Kali ini beliau didampingi
Wakil Gubernur yaitu Paku Alam IX.Sejak menggantikan ayahnya, Sri Sultan
Hamengku Buwono IX yang meninggal di Amerika, 8 Oktober 1988, Ngersa Dalem,
demikian ia biasa disapa, dikenal sebagai sosok yang dekat dengan rakyatnya.
Dalam suatu kesempatan, ia pernah mengatakan, keberpihakan pada rakyat itu
tetap harus dilakukan sebagai suatu panggilan. “Saya harus membentuk jati diri
untuk tumbuh dan mengembangkan wawasan untuk keberpihakan itu sendiri sebagai
suatu kewajiban yang harus dilakukan. Selain itu, masyarakat juga agar
mengetahui setiap gerak langkah saya dalam membentuk jati diri, dan rakyat
diberi kesempatan untuk melihat bener atau tidak, mampu atau tidak, sependapat
atau tidak, dan sebagainya”, ujuarnya. Keberpihakannya pada rakyat ini memang
terbukti. Pada 14 Mei 1998, ketika gelombang demontrasi mahasiswa semakin
membesar, Sultan mengatakan, “Saya siap turun ke jalan”. Ia benar-benar tampil
dan berpidato di berbagai tempat menyuarakan pembelaan pada rakyat, sambil
berpesan “Jogja harus menjadi pelopor gerakan reformasi secara damai, tanpa
kekerasan”.Aksi turun ke jalan yang dilakukan Sri Sultan HB X itu bukan tanpa
alasan. “Jika pemimpin tidak benar, kewajiban saya untuk mengingatkan. Karena
memang kebangetan (keterlaluan), ya tak pasani sesasi tenan (ya saya puasai
sebulan penuh)”, katanya. Puasa itu dimulai 19 April dan berakhir 19 Mei 1998
saat Sri Sultan HB X dan Sri Paku Alam VIII tampil bersama menyuarakan
“Maklumat Yogyakarta”, yang mendukung gerakan reformasi total dan damai. Itu
yang dia sebut ngelakoni. Pada akhir puasa, ia mengaku mendapat isyarat
kultural “Soeharto jatuh, manakala omah tawon sekembaran dirubung laron sak
pirang-pirang” (sepasang sarang tawon dikerumuni kelekatu dalam jumlah sangat
banyak). “Bukan maksud saya mengabaikan peran mahasiswa. Saya hanya mendukung
gerakan itu dengan laku kultural. Itu maksud saya”. Memang, sehari setelah
banjir massa yang jumlahnya sering disebut lebih dari sejuta manusia di
Alun-alun Utara Jogjakarta—mengikuti Aksi Reformasi Damai dengan mengerumuni
sepasang berigin berpagar (ringin kurung)—Soeharto pun lengser. Sri Sultan HB X
dengan Keraton Jogjakarta-nya memang fenomenal. Kedekatannya dengan rakyat, dan
karena itu juga kepercayaan rakyat terhadapnya, telah menjadi ciri khas yang
mewarisi hingga kini. Lihat saja, misalnya, pada 20 Mei 1998, di bawah reksa
Sultan, aparat keamanan berani melepas mahasiswa ke alun-alun utara. Sebelum
itu hampir setiap hari mahasiswa bersitegang melawan aparat keamanan untuk
keluar dari kampus. Di pagi hari yang cerah di hari peringatan Kebangkitan
Nasional 1998 itu, mahasiswa berbaris dengan amat tertib menyuarakan “mantra”
sakti reformasi menuju Alun-alun Utara. Mereka pergi untuk mendengarkan
maklumat yang akan dibacakan sebagai semacam pernyataan politik Sri Sultan. Di
era reformasi, bersama Gus Dur, Megawati dan Amien Rais, Sultan Hamengku Buwono
X menjadi tokoh yang selalu diperhitungkan. Legitimasi mereka berempat sebagai
tokoh-tokoh yang dipercaya rakyat bahkan melebihi legitimasi yang dimiliki
lembaga formal seperti DPR. Mereka berempat adalah deklarator Ciganjur, yang
lahir justru ketika MPR sedang melakukan bersidang. Mereka berempat, plus
Nurcholis Madjid dan beberapa tokoh nasional lain, diundang Pangab Jenderal TNI
Wiranto untuk ikut mengupayakan keselamatan bangsa, setelah pristiwa kerusuhan
di Ambon.Pada masa kepemimpinannya, Yogyakarta mengalami gempa bumi yang
terjadi pada bulan Mei 2006 dengan skala 5,9 sampai dengan 6,2 Skala Richter
yang menewaskan lebih dari 6000 orang dan melukai puluhan ribu orang lainnya.
Pada peringatan hari ulang tahunnya yang ke-61 di Pagelaran Keraton 7 April
2007, ia menegaskan tekadnya untuk tidak lagi menjabat setelah periode
jabatannya 2003-2008 berakhir. Dalam pisowanan agung yang dihadiri sekitar
40.000 warga, ia mengaku akan mulai berkiprah di kancah nasional. Ia akan
menyumbangkan pemikiran dan tenaganya untuk kepentingan bangsa dan negara.

11. Sultan Hamengku Buwono XI
Pengukuhan Gusti Bendoro Pangeran Haryo
Prabukusumo sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono XI pada Ahad, 12 Juli 2015, oleh
Paguyuban Trah Ki Ageng Giring-Ki Ageng Pemanahan tidak diakui kelompok
masyarakat sipil di Yogyakarta.
Ketua Dewan Penasihat Paguyuban Dukuh Se-Kabupaten
Gunungkidul Sutiyono menyatakan kalangan masyarakat hanya akan mengakui raja
baru yang dinobatkan sesuai dengan prosedur yang dianut Keraton Yogyakarta.
Pangeran Diponegoro nama aslinya adalah Raden Mas Ontowiryo, lahir di
Yogyakarta tanggal 11 Nopember 1785. Putera dari sultan Hamengkubuwono III dan
selir. Karena watak kepemimpinan dan kemurahannya. Ayahnya Sultan Hamengku
Buwono III berniat mengangkatnya
sebagai raja, tapi Pangeran Diponegoro menolak dengan alasan karena ibunya
bukan permaisuri.
Ditahun 1820-an kompeni Belanda sudah memasuki dan mencampuri urusan
kerajaan-kerajaan Yogyakarta. Peraturan tata tertib dibuat oleh pemerintah Belanda
yang sangat merendahkan martabat raja-raja Jawa. Para bangsawan diadu domba.
Tanah-tanah kerajaan banyak yang diambil untuk perkebunan milik
pengusaha-pengusaha Belanda.
Melihat kondisi seperti itu, Pangeran Diponegoro merasa tidak senang, lalu
meninggalkan keraton dan menetap di Tegalrejo. Tapi Belanda menuduhnya
menyiapkan pemberontakan. Tanggal 20 Juni 1825 pasukan Belanda menyerang
Tegalrejo dan dengan demikian mulailah perang yang dikenal dengan nama Perang
Diponegoro (1825 - 1830). Setelah Tegalrejo jatuh, Pangeran Diponegoro
membangung pusat pertahanan di Selarong. Lalu perang dilancarkan secara
gerilya. Belanda kewalahan setelah beberapa benteng pertahanannya hancur dan
pangeran diponegoro sulit dihancurkan dan Belanda mengalami kesulitan.
Beberapa tokoh perlawanan dibujuk oleh Belanda sehingga mereka menghentikan
peperangan. Sejak tahun 1829 perlawanan semakin berkurang, tapi masih berlanjut
terus. Belanda mengumumkan akan memberi hadiah sebesar 50.000 golden kepada
siapa saja yang dapat menangkap Diponegoro. Mahapatih keraton Yogyakarta
Danuredjo IV pernah berniat melakukan konfrontasi langsung dan menangkap
Pangeran Diponegoro namun saya tidak tahu penyebab akhirnya sang patih justru
melepaskan Pangeran Diponegoro.
Pasukan dan kekuatan Diponegoro melemah, tapi ia tidak pantang menyerah. Karena
Belanda tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro, lalu Belanda menjalankan
cara yang licik yaitu dengan cara mengundang Pangeran Diponegoro untuk
berunding di Magelang tanggal 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro menyambut baik
tawaran dari Belanda, tapi Diponegoro malah ditangkap dan dibuang ke Menado,
kemudian dipindahkan ke Ujungpandang.
Pangeran Diponegoro meninggal duni di benteng Rotterdam Ujungpandang, pada
tanggal 8 Januari 1855 dan dimakamkan disana.
Sumber : dari berbagai sumber