Selamat Datang

Selasa, 12 Juni 2018

"JEJAK SANG WALI URUT SEWU SYEKH ABU BAKI ALIAS MBAH PANDAN LOR"

 "JEJAK SANG WALI URUT SEWU SYEKH ABU BAKI 

                       ALIAS MBAH PANDAN LOR"


Makam Syekh Abdul Baki Alias Mbah Pandan Lor

Pada hari ini Senin Pahing tanggal 11 Juni 2018 bertepatan dengan tanggal 26 Ramadhan 1439 H tanpa sengaja saya melintasi sebuah pemakaman umum di Desa Pandan Lor Kecamatan Klirong dan melihat ada bangunan yang permanen lain daripada bangunan makam di sekelilingnya. Saya penasaran dan masuk ke area pemakaman dan memarkirkan kendaraan di depan bangunan tersebut yang ternya sebuah bangunan yang kelihatan sering dikunjungi terlihat dari lantainya yang kelihatan bersih terawat dan dikeramik.


Kebetulan di dekat makam tersebut ada seorang yang sedang merumput di sekitar makam tersebut, ketika kutanya ternyata penduduk setempat dan asli desa Pandan Lor nama Pak Kasidin usia sekitar 60 tahunan.

Saya pun penasaran dan segera  mendekati dengan memberi salam terlebih dahulu serta memperkenalkan diri, selanjutnya terlibat perbincangan tentang makam tersebut. Akhirnya beliau berceritera tentang awal mula dibangun makam tersebut dan siapa sebenarnya sosok yang ada di makam tersebut.

Awal Mulanya di Bangun Makam Syehk Abu Baki

Awal mulainya adalah ada wangsit yang disampaikan oleh Simbah Kyai Abu Dari pengasuh pondok Jagasima Kebuluhan Kecamatan Klirong yang menyarankan kepada warga setempat untuk dibangun cungkup untuk makam tersebut yang diketahui bernama Syekh Abdul Baki yang merupakan masih saudara dengan Syekh Muhamad Najmudin Ali Mubin alias Syekh Mubin Ayam Putih Kec. Bulus PesantrenJuga masih kerabat dan memiliki hubungan dengan Syekh Abdul Awal Desa kebon sari dan Syekh Anom Sida Karsa Jaga Mertan Kec. Petanahan. dan juga dengan Syekh di Pawijahan. 

Sosok Kyai Abu Darin dari Jaga  Sima Kebuluhan

Menurut pak Kasidin, bahwa Kyai Abu Darin memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang sembarangan, beliau katanya mampu melihat dan berkomunikasi dengan mahluk halus dan jin. Atas kemampuannya itulah akhirnya memerintahkan masyarakat setempat melalui putra dari pak Kasidin untuk membangun/memugar makam tersebut.

Bangunan untuk melakukan Istighotsah
Pesan Langsung dari Syekh Abu Baki

Menurut penuturan pak Kasidin, bahwa sebenarnya jauh-jauh hari sudah ada tengara dari Syehk Abu Baki langsung melalui penjual rabuk (kapur untuk membangun) yang berasal dari desa Gebangsari Kec. Klirong yang biasa jualan di pasar rabuk Klirong. Belaiau datang langsung menemui penjual rabuk tersebut dengan mengaku Syekh Abu Baki minta di kirimi rabuk ke sekitar makam. Karena yang memsan jelas maka penjual rabuk tersebut lenagsung mengirim ke lokasi makam, karena memang tidak ada yang memesan maka kiriman tersebut dikembalikan ke penjual rabuk.

Akhirnya ada pesan dari Kayi Abu Darin namu belum di laksanakan, hingga meninggalnya Kyai Abu Darin belum juga di laksanakan pembangunan makam tersebut hingga dua tahun kemarin ada seorang warga dekat lokasi makam yang bernama Satiman seperti dimasuki roh dan minta segera dibangun makam tersebut dan akhirnya atas prakarsa kyai setempat.

Atas prakarsa tersebut akhirnya warga sepakat untuk membangun makam walau saat itu baru memiliki 1 sak semen. namu kejadian yang tidak disangka2 begitu mulai dibangun datanglah bantuan dari berbagai pihak yang tidak disangka2 yang akhirnya makam tersebut selesai dibangun.  


Makam Syekh Abu Baki Alias "Mbah Pandan Lor"

Banyak Peziarah yang tidak dikenal

Menurut penuturan pak Kasidin, setelah makam selesai di bangun banyak peziarah yang datang entah dari mana dan melakukan Istighotsah dimakam tersebut. Kegiatan tersebut hingga sekarang selalu dilakukan setiap malam Ahad Pahing

Route menuju Makam Syekh Abu Baki Alias Mbah Pandan Lor

Jika anda dari arah Timur (Yogyakarta) maupun dari Arah Barat (Petanahan), setelah sampai di perempatan Jaga Sima anda masuk ke arah Selatan menuju TPI Tanggul Angin. Setelah melewati batas desa antara Jaga Sima dan Pandan Lor ada perempatan ambil ke arah Timur (kiri) dan ikuti jalur tersebut hingga sampai pemakaman umum Desa Pandan Lor lokasi dibangunnya Makam Syekh Abu Baki alias Mbah Pandan Lor.

Perempatan pertama Desa Pandan Lor

Demkian informasi tentang Syek Abu Baki alias Mbah Pandan Lor yang bisa penulis sampaikan semoga bermanfaat.

Catatan : Nama Mbah Pandan Lor adalah istilah penulis yang memberikan karena berada di Desa Pandan Lor yang semata-mata untuk memudahkan kita mengingatnya. Catatan tersebut penulis peroleh dari hasil wawancara langsung dengan penduduk setempat yang kebetulan ikut terlibat. terima kasih kepada Pak Kasidin yang telah dengan sukarela menceritakan asal mulai dibangunnya makam tersebut.














Penulis : Sakijo.bin Sam Pan Djayanom

Rabu, 11 April 2018

GOTONG ROYONG YANG MASIH BERKEMBANG DI MASAYARAKAT KEBUMEN



GOTONG ROYONG YANG MASIH BERKEMBANG DI MASAYARAKAT KEBUMEN



SAMBATAN



Sambatan, secara umum juga berarti gotong royong di antara sesama warga. Istilah sambatan ini lebih mengarah kepada istilah tolong-menolong di antara sesama warga. Ketika ada seorang warga, yang mempunyai pekerjaan atau pun hajatan, biasanya pemilik pekerjaan atau hajatan itu akan meminta sambatan kepada tetangga-tetangga terdekatnya.


Misalnya saat seorang warga akan membangun sebuah rumah. Biasanya warga akan melakukan sambatan saat membuat pondasi rumah. Sambatan ini, bisanya dilakukan secara bersama-sama atau bergantian antar beberapa warga. Sambatan dilakukan tidak sampai sehari penuh, biasanya cukup setengah hari saja, dari pagi hingga siang hari. Pemilik rumah atau yang nduwe gawe, cukup menyediakan minuman dan makanan saja, istilah Brebesnya wedang dan panganan untuk mereka yang disambat membantu pekerjaan tadi.

Hasil gambar untuk MEMASANG TARUB HAJATAN

Sambatan juga bisa dilakukan bagi mereka yang memiliki hajatan, seperti pengantin atau pun sunatan. Pemilik hajat biasanya akan minta sambatan kepada orang-orang tertentu, misalnya untuk mengantar undangan, membuat layos atau pun membuat dekorasi. Sedangkan kaum ibu, biasanya disambat untuk mengiring pengantin, dari rumah mempelai perempuan ke rumah mempelai laki-laki dan kembali lagi. 

KERIGAN


Kerigan dalam bahasa Indonesia berarti kerja bakti bersama seluruh warga di suatu lingkungan, seperti RT, RW atau suatu pedukuhan, bahkan hingga satu desa. Kerigan ini dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Brebes setiap hari-hari tertentu aau setiap saat kalau dirasa perlu. Seperti kerigan untuk membersihkan saluran air dan sampah rumah tangga di lingkungan mereka masing-masing. Istilah kerigan ini saat ini sudah jarang digunakan, masyarakat dan pemerintah lebih sering menggunakan istilah kerja bakti, gerakan Jumat Bersih atau Minggu Bersih dan sebagainya.


Istilah kerigan ini mungkin perlu diingatkan kembali, agar masyarakat tidak kehilangan jati dirinya sebagai masyarakat yang berbudaya. Dengan istilah yang berasal dari bahasa lokal, bahasa Brebesan, maka semngat kegotongroyongan itu akan tetap terpelihara. Karena saat ini, ada indikasi budaya individualisme di tengah-tengah masyarakat mulai tumbuh. Hal ini yang harus diperhatikan pemerintah, maupun instansi dan lembaga terkait agar budaya ini tetap lestari dan berkembang. Antara lain dengan terus mengadakan kerigan atau gotong royong secara rutin setiap pekan sekali, baik melalui gerakan Jumat Bersih atau pun Minggu Sehat. 

REWANG

Hasil gambar untuk REWANG HAJATAN

Rewang  merupakan salah satu bentuk gotong royong yang hingga kini masih menjadi budaya masyarakat Jawa yang khusus di wilayah Kebumen. Dalam bahasa Indonesia, Rewang berarti membantu orang yang sedang punya hajat. Baik hajatan pengantenan, sunatan maupun sedekah.

Hasil gambar untuk REWANG HAJATAN

Budaya Rewang ini umumnya dilakukan oleh warga yang masih memiliki unsur kekerabatan, namun tidak menutup kemungkinan juga dilakukan oleh tetangga-tetangga dekatnya. Sinoman/Rewang dilakukan biasanya saat pemilik hajatan membuat kue-kue atau pun makanan seperti berkat,  atau yang lainnya.

Mereka yang rewang itu, biasanya datang sendiri dan tidak dibayar. Sebagai upah atau penghargaan atau sinoman  yang dilakukan itu, biasanya pemilik hajat akan memberikan kue atau makanan yang dibuat bersama-sama tersebut.


Gambar terkait

Budaya rewang saat ini masih tumbuh subur di masyarakat pedesaan, khususnya dilakukan kaum ibu/perempuan, meski kaum bapak/laki-laki juga ada yang rewang juga. Sementara di masyarakat perkotaan, budaya rewang, sudah mulai berkurang.

Demikianlah beberapa bentuk kerja bhakti/gotong royong yang masih ada dan berkembang di masyarakat Jawa khususnya di wilayah Kebumen. Semoga apa yang kami sampaikan tersebut dapat menambah wawasan dan pemahaman kita semua, juga berharap kegiatan tersebut tetap lestari berkembang di tengah2 masyarakat khususnya di wilayah Kabupaten Kebumen.

Sumber : dari berbagai sumber
Catatan : Foto/gambar hanya sebagai ilustrasi semata.



Selasa, 17 Oktober 2017

MAKAM MBAH MUBIN AYAM PUTIH - BULUSPESANTREN - KEBUMEN

 "JEJAK SANG WALI URUT SEWU SYEKH MUHAMMAD NAJMUDDIN 'ALI MUBIN"
ALIAS MBAH MUBIN AYAM PUTIH - BULUSPESANTREN - KEBUMEN

        Gambar 1. Bangunan Makam Syekh Mubin
Sebuah lokasi pemakaman tua yang seolah-olah sudah mati (baca: sudah tidak lagi dijadikan sebagai pemakaman umum) berjarak sekitar 1,5 kilometer dari jembatan Desa Pandan Lor, Klirong (Jalan Dendeles, Jalur Selatan Kebumen-Yogyakarta) tak disangka terdapat situs Islam yang bersejarah. Tepatnya di Desa Ayam Putih, Buluspesantren, Kebumen. Disana agaknya sudah berdiri tegak sebuah lokasi bangunan yang diberi nama “Makam Waliyulloh Syekh Mubin” yang dibangun tahun 2014. Di dalamnya terdapat sebuah makam yang dikeramatkan oleh warga masyarakat Ayam Putih dan sekitarnya bahkan juga oleh masyarakat luar kota Kebumen, seperti dari Yogyakarta, Solo hingga Jawa Timur.
Adalah Mulyono (43) 08/02/15, seorang peziarah berasal dari Ambalkumolo, Buluspesantren, Kebumen mengaku sering mengunjungi makam Syekh Mubin ini jika ada waktu-waktu senggang, minimal seminggu sekali. “saya sering berziarah ke makam ini kalau waktu sedang senggang, ya minimal seminggu sekali. Kalau situasi dan kondisinya mendukung, bahkan saya melanjutkan berziarah ke makam-makam waliyulloh yang lain seperti ke Syekh Anom Sidakarsa dan Syekh Abdul Awal. Tapi, kalau situasi dan kondisi tidak cocok, saya biasanya menjamaknya disini saja.” Ujar pria yang sering disapa dengan Mul ini. Mul menambahkan bahwa, “tidak ada untungnya kita berziarah jauh-jauh tapi tanpa ada keikhlasan dalam diri dan hati kita. Menjamak di makam ini juga sudah cukup, tapi memang alangkah baiknya jika kita dekat atau berada ditempat makam yang kita tuju. Karena dengan hati yang bersihlah semua akan diberi tahu dan akhirnya dipahamkan oleh Allah, begitu pula makam ini. Dulu makam Mbah Mubin ini seakan-akan tidak ada apa-apanya. Dalam arti tidak mendapat respon yang penuh baik dari penduduk desa sekitar atau pun daerah lainnya. Tapi, karena memang yang namanya wali Allah, dimanapun berada pasti akan ditampakkan oleh-Nya. Makam Mbah Mubin atau Syekh Mubin ini sekarang telah disingkapkan tabir kehidupan oleh Allah SWT sehingga orang-orang pun banyak yang meresponnya dengan baik.” Tutur beliau.[1]
Asal Usul Syekh Mubin
          Syekh Mubin memiliki nama asli Syekh Muhammad Najmuddin ‘Ali Mubin. Ia adalah seorang buyut dari wali sekaligus ulama sejagat raya yang sering dikirim do’a oleh kaum muslimin ketika bertawassul yakni Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Sykeh Mubin biasa di khaul-kan setiap bulan Rawah Minggu pertama (tepatnya tanggal 1 rawah). Namun, karena tanggal 1 rawah tidak pasti harinya bertepatan, maka untuk memudahkannya adalah dengan menetapkan khaul Syekh Mubin setiap Minggu pertama pada bulan Rawah. Kalau pembaca ada waktu, selakanlah untuk mengikuti khaul Syekh Mubin pada tanggal dan waktu tersebut.
          Sebagaimana orang-orang pada umumnya, untuk meyakinkan bahwa beliau (baca: Syekh Mubin) merupakan seorang wali yang mempunyai nasab baik pastinya mempunyai nasab atupun silsilah yang baik pula. Sudah dikatakan diatas, bahwa Syekh Mubin masih keturunan dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Itu berarti secara tidak langsung Syekh Mubin juga keturunan dari Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Sebab Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga seorang masih keturunan Nabi Muhammad SAW.
          Untuk, lebih memudahkan dalam mengetahui nasab dan silsilah Syekh Mubin tersebut, maka lihatlah silsilahnya adalah sebagai berikut:
Syekh Mubin bin Syekh Musa bin Syekh Wahab bin Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
 
 Gambar 2. Makam Syekh Muhammad Najmuddin ‘Ali Mubin (Mbah Mubin)
          Syekh Mubin atau yang masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan Mbah Mubin adalah seorang ulama yang berasal dari India. Ia dikirim oleh sang guru untuk ditugaskan berdakwah (menyebarkan ajaran agama Islam) ke tanah Jawa tepatnya diantara sungai Progo, Kulon Progo dengan sungai Serayu, Cilacap. Sekitar tahun 1646M Syekh Mubin menyebarkan dakwah islamiyahnya di tanah Kebumen ini, khususnya dibagian pesisir pantai selatan Desa Ayam Putih, Buluspesantren.[2]

Gambar 3. Makam dua Nyai Mubin (dua istri Syekh Mubin) yang dari India dan Jawa.
Berdasarkan data yang penulis peroleh dari hasil wawancara dengan juru kunci sekaligus masih keturunan Syekh Mubin yakni Suswanto Saeful Wahid (43), bahwa Syekh Mubin merupakan guru dari para wali di tanah Jawa termasuk Wali Songo. Sebagaimana para  guru pada umumnya, ia juga mempunyai satu murid yang sangat disayangi yaitu Sultan Hanyokro Kusumo[3]. Mataram pada saat itu merupakan Kerajaan yang pro dengan VOC dan Sultan Hanyokro Kusumo tidak setuju dengan pertalian yang dilakukan pihak Kerajaan dengan VOC (Belanda) tersebut. Karena, jika hal itu terus berlangsung maka secara tersirat rakyat pun akan selalu menderita. Dalam arti untuk mencari pangan dan pakan pun akan susah, sebab perekonomian pribumi diusung habis oleh Belanda. Oleh sebab itu, Sultan Hanyokro Kusumo menentang pertalian ayahandanya yang notabene orang nomor satu di Kerajaan Mataram Islam. Ia lari dari lingkungan Kerajaan kemudian sampailah di sebuah daerah pesisir selatan (Buluspesantren, Kebumen)  hingga bertemu Syekh Mubin sekaligus mengabdi (berguru) kepadanya.



Gambar 4. Tunggak Kayu Laban (tempat semedi Sultan Hanyokro Kusuma, murid kesayangan Syekh Mubin)
          Konon, kayu ini dulu sebagai tempat bertapa salah satu dari sekian banyak murid Syekh Mubin yaitu Sultan Hanyokro Kusumo. Oleh karenanya, kayu ini pun dipercaya memiliki kekuatan yang tidak sembarangan. Menurut Suswanto (43) dan berdasarkan cerita fakta rakyat sekitar makam, kayu ini tidak pasah dipotong. Setiap akan memotongnya, setiap akan menghancurkannya dengan wadung (baca: kampak) ataupun dengan alat pemotong kayu lainnya, kayu ini berpindah tepat dengan sendirinya. Bahkan kampaknya pun akan hilang sendiri dengan sekejap ketika akan me-madung-nya (baca: memotongnya), tak tahu kemana. Kayu laban memang pada dasarnya terkenal sebagai jenis kayu yang keras.
Metodologi Dakwah
          Dari segi dakwahnya, Syekh Mubin terkenal golongan ulama yang santun dan penuh dengan akhlak. Tidak gampang menyalahkan orang lain, adat-istiadat setempat, tidak kaku apalagi menentang budaya baik. Dalam berdakwah Islamiyah, ia dengan cara mengumpulkan masyarakat untuk bekerja bakti, gotong royong disekitar masjid sambil pelan-pelan diceramahi. Masyarakat menyadari betapa santun dan baiknya akhlak Syekh Mubin kepada mereka, hingga satu persatu pada akhirnya mereka mengikrarkan diri untuk menjadi hamba Allah yang Maha Esa yaitu masuk Islam.
          Selain menggunakan cara kerja bakti yang notabene masuk dalam kategori dakwah bil lisan, Syekh Mubin juga menggunakan dakwah bil kitab yaitu dengan menulis kitab tentang akhlak, moralitas, norma-norma agama yang berisi pesan-pesan kepada para umatnya. Jika berisi pesan-pesan untuk umat, boleh jadi di dalamnya tidak hanya berisi mengenai akhlak ataupun moralitas, namun tidak menutup kemungkinan kalau tauhid, syariat (fiqih) dan ilmu-ilmu agama lainnya juga terdapat dalam kitab tersebut.
Sumber : http://kajiankeilmuanislam.blogspot.co.id

                [1] Wawancara dengan Mulyanto (43) pada Sabtu, 07 Februari 2015.
                [2] Wawancara dengan Suswanto Saeful Wahid (43) pada Sabtu, 07 Februari 2015.
                [3] Sultan Hanyokro Kusumo adalah anak pertama dari Amangkurat I (Raja Mataram Islam).

Kamis, 25 Mei 2017

SILSILAH TRAH ARDAMENAWI

  SILSILAH KELUARGA TRAH ARDAMENAWI
 |
I. SAPON
II. SANIS
III. JAYANOM (SAMPAN)

A. JAYANOM + SIYEM
|
SANIYEM + TUKIRAN
|
1. WASKITO
2. SAINO
3. LUDIYATI
4. GIYARSONO

B. JAYANOM/SAMPAN + SAKONAH (SASTRO SAIDI + SAMIYEM)
|
I. SUTATI + MAKHRUM/SUMIYATNO
|
1. YANTI RAHMAWATI
2. HERU WAHYUDI

II. SURATMAN + SUTINI
|
EKA RATNA

III. TUGINO + JUJU JUARIYAH
1. ANGGI
2. GILANG
3. ERLANGGA

IV. SAKIYEM (MENINGGAL USIA BALITA)

V. SAKIJO + KOMSAH
|
1. TYAS YUDHISTIRA
2. ALHIKMAH (MENINGGAL BARU LAHIR)
3. KIKIS SANDYA JAGADDHITYA


IV. KARTAJA (SADIKAN) + RIMEN
1. SALIMIN/SULARDI
2. HADIYONO (DIYO)
3. JAJULI
5. SAIDEM + SAN ALI
|
1. SAKIJAN 
2. JASIYO
|
V. OT. SAMPEN
|
SAMPEN

Minggu, 13 November 2016

RAJA RAJA JOGJAKARTA

RAJA RAJA JOGJAKARTA 
( HAMENGKU BUWONO I - XI )

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan sedikit dari peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara yang masih hidup hingga kini, dan masih mempunyai pengaruh luas di kalangan rakyatnya. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Pemerintah Hindia Belanda mengakui Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dinyatakan di dalam kontrak politik. Kontrak politik terakhir Kasultanan tercantum dalam Staatsblad 1941, No. 47. Berikut ini merupakan Sultan-sultan yang memerintah di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sejak awal didirikan hingga sekarang adalah :


1. Sultan Hamengku Buwono I 

Sultan Hamengku Buwono I (6 Agustus 1717 – 24 Maret 1792) terlahir dengan nama Raden Mas Sujana yang merupakan adik Susuhunan Mataram II Surakarta. Sultan Hamengkubuwana I dalam sejarah terkenal sebagai Pangeran Mangkubumi pada waktu sebelum naik tahta kerajaan Ngayogyakarta, beliau adalah putra Sunan Prabu dan saudara muda Susuhunan Pakubuwana II. Karena berselisih dengan Pakubuwana II, masalah suksesi, ia mulai menentang Pakubuwana II (1747) yang mendapat dukungan Vereenigde Oost Indische Compagnie atau lebih terkenal sebagai Kompeni Belanda (perang Perebutan Mahkota III di Mataram). Dalam pertempurannya melawan kakaknya, Pangeran Mangkubumi dengan bantuan panglimanya Raden Mas Said, terbukti sebagai ahli siasat perang yang ulung, seperti ternyata dalam pertempuran-pertempuran di Grobogan, Demak dan pada puncak kemenangannya dalam pertempuran di tepi Sungai Bagawanta. Disana Panglima Belanda De Clerck bersama pasukannya dihancurkan (1751). peristiwa lain yang penting menyebabkan Pangeran Mangkubumi tidak suka berkompromi dengan Kompeni Belanda. Pada tahun 1749 Susuhunan Pakubuwana II sebelum mangkat menyerahkan kerajaan Mataram kepada Kompeni Belanda; Putra Mahkota dinobatkan oleh Kompeni Belanda menjadi Susuhunan Pakubuwana III. Kemudian hari Raden Mas Said bercekcok dengan Pangeran Mangkubumi dan akhirnya diberi kekuasaan tanah dan mendapat gelar pangeran Mangkunegara. Pangeran Mangkubumi tidak mengakui penyerahan Mataram kepada Kompeni Belanda. Setelah pihak Belanda beberapa kali gagal mengajak Pangeran Mangkubumi berunding menghentikan perang dikirimkan seorang Arab dari Batavia yang mengaku ulama yang datang dari Tanah Suci. Berkat pembujuk ini akhirnya diadakan perjanjian di Giyanti (sebelah timur kota Surakarta) antara Pangeran Mangkubumi dan Kompeni Belanda serta Susuhunan Pakubuwana III (1755). Menurut Perjanjian Giyanti itu kerajaan Mataram dipecah menjadi dua, ialah kerajaan Surakarta yang tetap dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwana III dan kerajaan Ngayogyakarta dibawah Pangeran Mangkubumi diakui sebagai Sultan Hamengkubuwana I yang bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah dengan karatonnya di Yogyakarta. Atas kehendak Sultan Hamengkubuwana I kota Ngayogyakarta (Jogja menurut ucapan sekarang) dijadikan ibukota kerajaan. Kecuali mendirikan istana baru, Hamengkubuwana I yang berdarah seni mendirikan bangunan tempat bercengrama Taman Sari yang terletak di sebelah barat istananya. Kisah pembagian kerajaan Mataram II ini dan peperangan antara pangeran-pangerannya merebut kekuasaan digubah oleh Yasadipura menjadi karya sastra yang disebut Babad Giyanti. Sultan Hamengkubuwana I dikenal oleh rakyatnya sebagai panglima, negarawan dan pemimpin rakyat yang cakap. Beliau meninggal pada tahun 1792 Masehi dalam usia tinggi dan dimakamkan Astana Kasuwargan di Imogiri. Putra Mahkota menggantikannya dengan gelar Sultan Hamengkubuwono II. Hamengkubuwana I dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia pada peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2006.


2. Sultan Hamengku Buwono II 

Hamengkubuwono II (7 Maret 1750 – 2 Januari 1828) atau terkenal pula dengan nama lainnya Sultan Sepuh. Dikenal sebagai penentang kekuasaan Belanda, antara lain menentang gubernur jendral Daendels dan Raffles, sultan menentang aturan protokoler baru ciptaan Daendels mengenai alat kebesaran Residen Belanda, pada saat menghadap sultan misalnya hanya menggunakan payung dan tak perlu membuka topi, perselisihan antara Hamengkubuwana II dengan susuhunan surakarta tentang batas daerah kekuasaan juga mengakibatkan Daendels memaksa Hamengkubuwono II turun takhta pada tahun 1810 dan untuk selanjutnya bertahta secara terputus-putus hingga tahun 1828 yaitu akhir 1811 ketika Inggris menginjakkan kaki di jawa (Indonesia) sampai pertengahan 1812 ketika tentara Inggris menyerbu keraton Yogyakarta dan 1826 untuk meredam perlawanan Diponegoro sampai 1828. Hamengkubuwono III, Hamengkubuwono IV dan Hamengkubuwono V sempat bertahta saat masa hidupnyaSri Sultan Hamengku Buwono II. Saat menjadi putra mahkota beliau mengusulkan untuk dibangun benteng kraton untuk menahan seragan tentara inggris. Tahun 1812 Raffles menyerbu Yogyakarta dan menangkap Sultan Sepuh yang kemudian diasingkan di Pulau Pinang kemudian dipindah ke Ambon.




3. Sultan Hamengku Buwono III 

Hamengkubuwana III (1769 – 3 November 1814) adalah putra dari Hamengkubuwana II (Sultan Sepuh). Hamengkubuwana III memegang kekuasaan pada tahun 1810. Setahun kemudian ketika Pemerintah Belanda digantikan Pemerintah Inggris di bawah pimpinan Letnan Gubernur Raffles, Sultan Hamengkubuwana III turun tahta dan kerajaan dipimpin oleh Sultan Sepuh (Hamengkubuwana II) kembali selama satu tahun (1812). Pada masa kepemimpinan Sultan Hamengkubuwana III keraton Yogyakarta mengalami kemunduran yang besar-besaran. Kemunduran-kemunduran tersebut antara lain : Kerajaan Ngayogyakarta diharuskan melepaskan daerah Kedu, separuh Pacitan, Japan, Jipang dan Grobogan kepada Inggris dan diganti kerugian sebesar 100.000 real setahunnya. Angkatan perang kerajaan diperkecil dan hanya beberapa tentara keamanan keraton. Sebagian daerah kekuasaan keraton diserahkan kepada Pangeran Notokusumo yang berjasa kepada Raffles dan diangkat menjadi Pangeran Adipati Ario Paku Alam I. Pada tahun 1814 Hamengkubuwana III mangkat dalam usia 43 tahun.


4. Sultan Hamengku Buwono IV 

Hamengkubuwono IV (3 April 1804 – 6 Desember 1822) sewaktu kecil bernama BRM Ibnu Jarot, diangkat sebagai raja pada usia 10 tahun, karenanya dalam memerintah didampingi wali yaitu Paku Alam I hingga tahun 1820. Pada masa pemerintahannya diberlakukan sistem sewa tanah untuk swasta tetapi justru merugikan rakyat. Pada tahun 1822 beliau wafat pada saat bertamasya sehingga diberi gelar Sultan Seda Ing Pesiyar (Sultan yang meninggal pada saat berpesiar).



5. Sultan Hamengku Buwono V 

Hamengkubuwono V (25 Januari 1820 – 1826 dan 1828 – 4 Juni 1855) bernama kecil Raden Mas Menol dan dinobatkan sebagai raja di kesultanan Yogyakarta dalam usia 3 tahun. Dalam memerintah beliau dibantu dewan perwalian yang antara lain beranggotakan Pangeran Diponegoro sampai tahun 1836. Dalam masa pemerintahannya sempat terjadi peristiwa penting yaitu Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang berlangsung 1825 – 1830. Setelah perang selesai angkatan bersenjata Kesultanan Yogyakarta semakin diperkecil lagi sehingga jumlahnya menjadi sama dengan sekarang ini. Selain itu angkatan bersenjata juga mengalami demiliterisasi dimana jumlah serta macam senjata dan personil serta perlengkapan lain diatur oleh Gubernur Jenderal Belanda untuk mencegah terulangnya perlawanan kepada Belanda seperti waktu yang lalu. Beliau mangkat pada tahun 1855 tanpa meninggalkan putra yang dapat menggantikannya dan tahta diserahkan pada adiknya. 


6. Sultan Hamengku Buwono VI 

Sultan Hamengku Buwono VI (19 Agustus 1821 – 20 Juli 1877) adalah adik dari Hamengkubuwono V. Hamengkubuwono VI semula bernama Pangeran Adipati Mangkubumi. Kedekatannya dengan Belanda membuatnya mendapat pangkat Letnan Kolonel pada tahun 1839 dan Kolonel pada tahun 1847 dari Belanda.


7. Sultan Hamengku Buwono VII 

Nama aslinya adalah Raden Mas Murtejo, putra Hamengkubuwono VI yang lahir pada tanggal 4 Februari 1839. Ia naik takhta menggantikan ayahnya sejak tahun 1877. Pada masa pemerintahan Hamengkubuwono VII, banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, yang seluruhnya berjumlah 17 buah. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang kepadanya untuk menerima dana sebesar Rp 200.000,00. Hal ini mengakibatkan Sultan sangat kaya sehingga sering dijuluki Sultan Sugih. Masa pemerintahannya juga merupakan masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan. Ia bahkan mengirim putra-putranya belajar hingga ke negeri Belanda. Pada tanggal 29 Januari 1920 Hamengkubuwono VII yang saat itu berusia lebih dari 80 tahun memutuskan untuk turun tahta dan mengangkat putra mahkota sebagai penggantinya. Konon peristiwa ini masih dipertanyakan keabsahannya karena putera mahkota (GRM. Akhadiyat) yang seharusnya menggantikan tiba-tiba meninggal dunia dan sampai saat ini belum jelas penyebab kematiannya. Dugaan yang muncul ialah adanya keterlibatan pihak Belanda yang tidak setuju dengan putera Mahkota pengganti Hamengkubuwono VII yang terkenal selalu menentang aturan-aturan yang dibuat pemerintah Batavia. Biasanya dalam pergantian tahta raja kepada putera mahkota ialah menunggu sampai sang raja yang berkuasa meninggal dunia. Namun kali ini berbeda karena pengangkatan Hamengkubuwono VIII dilakukan pada saat Hamengkubuwono VII masih hidup, bahkan menurut cerita masa lalu sang ayah diasingkan oleh anaknya pengganti putera mahkota yang wafat ke Keraton di luar keraton Yogyakarta. Hamengkubuwono VII dengan besar hati mengikuti kemauan sang anak (yang di dalam istilah Jawa disebut mikul dhuwur mendhem jero) yang secara politis telah menguasai kondisi di dalam pemerintahan kerajaan. Setelah turun tahta, Hamengkubuwono VII pernah mengatakan “Tidak pernah ada Raja yang mati di keraton setelah saya” yang artinya masih dipertanyakan. Sampai saat ini ada dua raja setelah dirinya yang meninggal di luar keraton, yaitu Hamengkubuwono VIII meninggal dunia di tengah perjalanan di luar kota dan Hamengkubuwono IX meninggal di Amerika Serikat. Bagi masyarakat Jawa adalah suatu kebanggaan jika seseorang meninggal di rumahnya sendiri. Hamengkubuwono VII meninggal di keraton pada tanggal 30 Desember 1931 dan dimakamkan di Imogiri. Versi lain mengatakan bahwa Hamengkubuwono VII meminta pensiun kepada Belanda untuk madeg pandito (menjadi pertapa) di Pesanggrahan Ngambarukmo (sekarang Ambarukmo). Sampai saat ini bekas pesanggrahan itu masih ada dan di sebelah timurnya dulu pernah berdiri Hotel Ambarukmo yang sekarang sudah tidak ada lagi.


8. Sultan Hamengku Buwono VIII 

Sri Sultan Hamengkubuwono VIII (Kraton Yogyakarta Adiningrat, 3 Maret 1880 – Kraton Yogyakarta Adiningrat, 22 Oktober 1939) adalah salah seorang raja yang pernah memimpin di Kesultanan Yogyakarta. Dinobatkan menjadi Sultan Yogyakarta pada tanngal 8 Februari 1921. Pada masa Hamengkubuwono VIII, Kesultanan Yogyakarta mempunyai banyak dana yang dipakai untuk berbagai kegiatan termasuk membiayai sekolah-sekolah kesultanan. Putra-putra Hamengkubuwono VIII banyak disekolahkan hingga perguruan tinggi, banyak diantaranya di Belanda. Salah satunya adalah GRM Dorojatun, yang kelak bertahta dengan gelar Hamengkubuwono IX, yang bersekolah di Universitas Leiden. Pada masa pemerintahannya, beliau banyak mengadakan rehabilitasi bangunan kompleks keraton Yogyakarta. Salah satunya adalah bangsal Pagelaran yang terletak di paling depan sendiri (berada tepat di selatan Alun-alun utara Yogyakarta). Bangunan lainnya yang rehabilitasi adalah tratag Siti Hinggil, Gerbang Donopratopo, dan Masjid Gedhe. Beliau meninggal pada tanggal 22 Oktober 1939 di RS Panti Rapih Yogyakarta karena menderita sakit.


9. Sultan Hamengku Buwono IX 

Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Yogyakarta, 12 April 1912-Washington, DC, AS, 1 Oktober 1988) adalah salah seorang raja yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau juga Wakil Presiden Indonesia yang kedua antara tahun 1973-1978. Beliau juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Lahir di Yogyakarta dengan nama GRM Dorojatun, Hamengkubuwono IX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII dan Raden Ajeng Kustilah. Diumur 4 tahun Hamengkubuwono IX tinggal pisah dari keluarganya. Dia memperoleh pendidikan di HIS di Yogyakarta, MULO di Semarang, dan AMS di Bandung. Pada tahun 1930-an beliau berkuliah di Universiteit Leiden, Belanda (”Sultan Henkie”). Hamengkubuwono IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940 dengan gelar “Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senopati Ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Songo”. Beliau merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, dia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat “Istimewa”. Sejak 1946 beliau pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 adalah ialah Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur adalah karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN. Minggu malam pada 1 Oktober 1988 ia wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri.


10. Sultan Hamengku Buwono X 

Sri Sultan Hamengkubuwono X (Kraton Yogyakarta Hadiningrat, 2 April 1946 – sekarang) adalah salah seorang raja yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sejak 1998. Hamengkubuwono X lahir dengan nama BRM Herjuno Darpito. Setelah dewasa bergelar KGPH Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Rajaputra Nalendra ing Mataram. Hamengkubuwono X adalah seorang lulusan Fakultas Hukum UGM dan dinobatkan sebagai raja pada tanggal 7 Maret 1989 (Selasa Wage 19 Rajab 1921) dengan gelar resmi Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Alogo Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Dasa. Hamengkubuwono X aktif dalam berbagai organisasi dan pernah memegang berbagai jabatan diantaranya adalah ketua umum Kadinda DIY, ketua DPD Golkar DIY, ketua KONI DIY, Dirut PT Punokawan yang bergerak dalam bidang jasa konstruksi, Presiden Komisaris PG Madukismo, dan pada bulan Juli 1996 diangkat sebagai Ketua Tim Ahli Gubernur DIY.Setelah Paku Alam VIII wafat, dan melalui beberapa perdebatan, pada 1998 beliau ditetapkan sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dengan masa jabatan 1998-2003. Dalam masa jabatan ini Hamengkubuwono X tidak didampingi Wakil Gubernur. Pada tahun 2003 beliau ditetapkan lagi, setelah terjadi beberapa pro-kontra, sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta untuk masa jabatan 2003-2008. Kali ini beliau didampingi Wakil Gubernur yaitu Paku Alam IX.Sejak menggantikan ayahnya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang meninggal di Amerika, 8 Oktober 1988, Ngersa Dalem, demikian ia biasa disapa, dikenal sebagai sosok yang dekat dengan rakyatnya. Dalam suatu kesempatan, ia pernah mengatakan, keberpihakan pada rakyat itu tetap harus dilakukan sebagai suatu panggilan. “Saya harus membentuk jati diri untuk tumbuh dan mengembangkan wawasan untuk keberpihakan itu sendiri sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan. Selain itu, masyarakat juga agar mengetahui setiap gerak langkah saya dalam membentuk jati diri, dan rakyat diberi kesempatan untuk melihat bener atau tidak, mampu atau tidak, sependapat atau tidak, dan sebagainya”, ujuarnya. Keberpihakannya pada rakyat ini memang terbukti. Pada 14 Mei 1998, ketika gelombang demontrasi mahasiswa semakin membesar, Sultan mengatakan, “Saya siap turun ke jalan”. Ia benar-benar tampil dan berpidato di berbagai tempat menyuarakan pembelaan pada rakyat, sambil berpesan “Jogja harus menjadi pelopor gerakan reformasi secara damai, tanpa kekerasan”.Aksi turun ke jalan yang dilakukan Sri Sultan HB X itu bukan tanpa alasan. “Jika pemimpin tidak benar, kewajiban saya untuk mengingatkan. Karena memang kebangetan (keterlaluan), ya tak pasani sesasi tenan (ya saya puasai sebulan penuh)”, katanya. Puasa itu dimulai 19 April dan berakhir 19 Mei 1998 saat Sri Sultan HB X dan Sri Paku Alam VIII tampil bersama menyuarakan “Maklumat Yogyakarta”, yang mendukung gerakan reformasi total dan damai. Itu yang dia sebut ngelakoni. Pada akhir puasa, ia mengaku mendapat isyarat kultural “Soeharto jatuh, manakala omah tawon sekembaran dirubung laron sak pirang-pirang” (sepasang sarang tawon dikerumuni kelekatu dalam jumlah sangat banyak). “Bukan maksud saya mengabaikan peran mahasiswa. Saya hanya mendukung gerakan itu dengan laku kultural. Itu maksud saya”. Memang, sehari setelah banjir massa yang jumlahnya sering disebut lebih dari sejuta manusia di Alun-alun Utara Jogjakarta—mengikuti Aksi Reformasi Damai dengan mengerumuni sepasang berigin berpagar (ringin kurung)—Soeharto pun lengser. Sri Sultan HB X dengan Keraton Jogjakarta-nya memang fenomenal. Kedekatannya dengan rakyat, dan karena itu juga kepercayaan rakyat terhadapnya, telah menjadi ciri khas yang mewarisi hingga kini. Lihat saja, misalnya, pada 20 Mei 1998, di bawah reksa Sultan, aparat keamanan berani melepas mahasiswa ke alun-alun utara. Sebelum itu hampir setiap hari mahasiswa bersitegang melawan aparat keamanan untuk keluar dari kampus. Di pagi hari yang cerah di hari peringatan Kebangkitan Nasional 1998 itu, mahasiswa berbaris dengan amat tertib menyuarakan “mantra” sakti reformasi menuju Alun-alun Utara. Mereka pergi untuk mendengarkan maklumat yang akan dibacakan sebagai semacam pernyataan politik Sri Sultan. Di era reformasi, bersama Gus Dur, Megawati dan Amien Rais, Sultan Hamengku Buwono X menjadi tokoh yang selalu diperhitungkan. Legitimasi mereka berempat sebagai tokoh-tokoh yang dipercaya rakyat bahkan melebihi legitimasi yang dimiliki lembaga formal seperti DPR. Mereka berempat adalah deklarator Ciganjur, yang lahir justru ketika MPR sedang melakukan bersidang. Mereka berempat, plus Nurcholis Madjid dan beberapa tokoh nasional lain, diundang Pangab Jenderal TNI Wiranto untuk ikut mengupayakan keselamatan bangsa, setelah pristiwa kerusuhan di Ambon.Pada masa kepemimpinannya, Yogyakarta mengalami gempa bumi yang terjadi pada bulan Mei 2006 dengan skala 5,9 sampai dengan 6,2 Skala Richter yang menewaskan lebih dari 6000 orang dan melukai puluhan ribu orang lainnya. Pada peringatan hari ulang tahunnya yang ke-61 di Pagelaran Keraton 7 April 2007, ia menegaskan tekadnya untuk tidak lagi menjabat setelah periode jabatannya 2003-2008 berakhir. Dalam pisowanan agung yang dihadiri sekitar 40.000 warga, ia mengaku akan mulai berkiprah di kancah nasional. Ia akan menyumbangkan pemikiran dan tenaganya untuk kepentingan bangsa dan negara.



11. Sultan Hamengku Buwono XI

Pengukuhan Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabukusumo sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono XI pada Ahad, 12 Juli 2015, oleh Paguyuban Trah Ki Ageng Giring-Ki Ageng Pemanahan tidak diakui kelompok masyarakat sipil di Yogyakarta.

Ketua Dewan Penasihat Paguyuban Dukuh Se-Kabupaten Gunungkidul Sutiyono menyatakan kalangan masyarakat hanya akan mengakui raja baru yang dinobatkan sesuai dengan prosedur yang dianut Keraton Yogyakarta.


PANGERAN DIPONEGORO

Hasil gambar untuk PANGERAN DIPONEGORO

Pangeran Diponegoro nama aslinya adalah Raden Mas Ontowiryo, lahir di Yogyakarta tanggal 11 Nopember 1785. Putera dari sultan Hamengkubuwono III dan selir. Karena watak kepemimpinan dan kemurahannya. Ayahnya Sultan Hamengku Buwono III berniat mengangkatnya sebagai raja, tapi Pangeran Diponegoro menolak dengan alasan karena ibunya bukan permaisuri.

Ditahun 1820-an kompeni Belanda sudah memasuki dan mencampuri urusan kerajaan-kerajaan Yogyakarta. Peraturan tata tertib dibuat oleh pemerintah Belanda yang sangat merendahkan martabat raja-raja Jawa. Para bangsawan diadu domba. Tanah-tanah kerajaan banyak yang diambil untuk perkebunan milik pengusaha-pengusaha Belanda.

Melihat kondisi seperti itu, Pangeran Diponegoro merasa tidak senang, lalu meninggalkan keraton dan menetap di Tegalrejo. Tapi Belanda menuduhnya menyiapkan pemberontakan. Tanggal 20 Juni 1825 pasukan Belanda menyerang Tegalrejo dan dengan demikian mulailah perang yang dikenal dengan nama Perang Diponegoro (1825 - 1830). Setelah Tegalrejo jatuh, Pangeran Diponegoro membangung pusat pertahanan di Selarong. Lalu perang dilancarkan secara gerilya. Belanda kewalahan setelah beberapa benteng pertahanannya hancur dan pangeran diponegoro sulit dihancurkan dan Belanda mengalami kesulitan.

Beberapa tokoh perlawanan dibujuk oleh Belanda sehingga mereka menghentikan peperangan. Sejak tahun 1829 perlawanan semakin berkurang, tapi masih berlanjut terus. Belanda mengumumkan akan memberi hadiah sebesar 50.000 golden kepada siapa saja yang dapat menangkap Diponegoro. Mahapatih keraton Yogyakarta Danuredjo IV pernah berniat melakukan konfrontasi langsung dan menangkap Pangeran Diponegoro namun saya tidak tahu penyebab akhirnya sang patih justru melepaskan Pangeran Diponegoro.

Pasukan dan kekuatan Diponegoro melemah, tapi ia tidak pantang menyerah. Karena Belanda tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro, lalu Belanda menjalankan cara yang licik yaitu dengan cara mengundang Pangeran Diponegoro untuk berunding di Magelang tanggal 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro menyambut baik tawaran dari Belanda, tapi Diponegoro malah ditangkap dan dibuang ke Menado, kemudian dipindahkan ke Ujungpandang. 

Pangeran Diponegoro meninggal duni di benteng Rotterdam Ujungpandang, pada tanggal 8 Januari 1855 dan dimakamkan disana.

Sumber : dari berbagai sumber